Friday, October 26, 2007











Google



































KISAH CINTAKU DENGAN DIA

1. Sekilas Tentang Diriku

Aku terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Dalam keluargaku, aku adalah anak laki-laki tertua. Sekarang statusku dalam keluarga berubah menjadi anak pertama karena kakakku satu-satunya yang perempuan telah meninggal dunia pada saat ia berumur tiga bulan. Selain itu, aku terlahir di lingkungan keluarga yang cukup keras. Wajar saja karena ayahku seorang anggota militer.

Dari kecil aku selalu dididik keras oleh kedua orang tuaku layaknya seorang prajurit. Aku hanya diajarkan bagaimana berpikir dan bertindak cepat, bertanggungjawab pada tugas, serta menuruti segala perintah orang tuaku. Apalagi aku adalah anak laki-laki tertua sehingga aku mendapatkan pendidikan yang lebih keras dari orang tuaku dibandingkan dengan adik-adikku. Pada saat itu, rasa cinta, kasih dan sayang yang tertanam dalam diriku hanya tertuang kepada Tuhan, orang tuaku, adik-adikku, dan keluarga besarku. Orang tuaku tidak mengizinkan aku untuk mencintai orang lain.Entah sampai kapan hal ini akan terjadi dan apa alasannya ? Adapun bentuk sikap yang diajarkan orang tuaku untuk menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan hanyalah bersifat universal. Bagi ayahku cinta itu menyebabkan dua faktor, yaitu dapat memotivasi diri kita agar menjadi lebih baik atau dapat menghancurkan diri kita. Cinta yang dapat membuat diri kita menjadi lebih baik adalah cinta yang diberikan Tuhan dan kedua orang tua, begitu sebaliknya.

2. Kehidupanku Ketika Masih di Sekolah Dasar

Dari dulu aku cukup dikenal oleh teman-temanku sebagai orang yang serius dan pendiam. Yaa itulah pendapat orang lain tentang diriku.Tapi aku sendiri merasa sikapku seperti anak kecil. Sampai kelas tiga sekolah dasar, kehidupanku biasa-biasa saja. Namun, beranjak ke kelas empat sekolah dasar ketika aku mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar,tiba-tiba ada seorang gadis yang selalu memperhatikanku. Aku berani bilang begitu karena aku pun selalu memperhatikan sikap dia terhadapku. Dia selalu tersenyum manis padaku ketika berjumpa denganku.

Pada saat itu bukan rasa senang yang aku rasakan melainkan rasa takut yang begitu besar. Dia memang cantik, tetapi aku tidak suka kalau dia mendekati aku. Aku memang tidak suka ada gadis yang berdekatan denganku pada saat itu apalagi kalau gadis itu selalu memperhatikanku.Bisa dibilang pada saat itu aku ini takut sama gadis.

Setelah itu aku memberanikan diri untuk mendekatinya dengan maksud memberitahu dirinya supaya jangan coba-coba dekati aku biarpun pada saat itu keringat dingin mengucur deras dari keningku karena aku takut berdekatan dengan gadis. Tapi apa yang ternyata terjadi, dia semakin nekat mendekati aku dengan berbagai cara dan aku pun semakin merasa ketakutan. Aku mencoba untuk tidak peduli apapun yang dia lakukan kepadaku. Sampai waktu yang cukup lama, akhirnya untung saja dia menyerah untuk mendekati aku. Perasaanku lega dan senang karena kehidupanku kembali normal.

Tapi selang satu tahun, hal serupa terjadi lagi padaku. Kali ini gadis yang mendekatiku berbeda dan ceritanya pun berbeda. Ketika itu aku mendapat tugas kelompok dari sekolah dan kebetulan beberapa anggota kelompokku adalah perempuan. Aku sempat protes kepada guruku supaya tidak ada perempuan di dalam kelompokku. Tapi, aku malah dimarahi oleh guruku, sehingga aku terpaksa menerima keputusan guruku. Gara-gara keputusan guruku sebenarnya pada saat itu aku jadi malas mengerjakan tugas kelompok itu. Tapi mau tidak mau aku harus tetap mengerjakan tugas kelompok itu karena beban tanggungjawab. Selama beberapa hari mengerjakan tugas kelompok itu, ada salah seorang gadis dari anggota kelompokku yang selalu memperhatikanku. Ya jelas akibatnya konsentrasiku jadi hilang karena aku merasa ketakutan. Setiap kali aku sedang menulis tugas kelompok, dia selalu menatapku dan yang terjadi padaku adalah keringat dingin selalu mengucur deras dari keningku sebagai tanda rasa takutku.Yang membuatku semakin gemetaran dan takut adalah ketika dia berani membersihkan keringat di keningku. Dalam hati aku berdoa sambil ketakutan, “Ya Tuhan mengapa hal seperti ini harus terjadi padaku?”. Pada saat itu pula aku langsung lari ketakutan. Ya memang tindakanku ini berlebihan dan sangat konyol. Aku mencoba untuk tidak mempedulikan sikapnya padaku. Tapi ternyata semakin aku cuek padanya, dia semakin salah tingkah dan hiper aktif seolah-olah ingin mendapat perhatian dariku. Sampai suatu saat dia menitip pesan untukku melalui temannya bahwa dia menyukaiku. Ya jelas aku langsung memarahinya dan membuatnya menangis. Teman dekatku bilang kalau aku ini terlalu kejam apalagi hanya kepada seorang gadis. Memang benar apa yang dikatakan temanku. Aku punya alasan mengapa aku bersikap seperti itu. Bagiku belum saatnya aku belajar mencintai seorang gadis apalagi yang namanya cinta itu bisa membuat diri kita lemah seperti yang pernah ayahku ajarkan. Setelah kejadian itu dia terlihat sering murung dan merasa malu bila berjumpa denganku. Aku jadi merasa kasihan dan merasa bersalah. Tidak semestinya aku bersikap seperti itu kepadanya karena dia tidak berdosa padaku. Aku coba bicara lagi dengannya secara baik-baik dan bilang kepadanya, “Maaf atas tindakanku kemarin. Bukan maksudku ingin menyakiti hatimu, tapi aku takut hal seperti ini terjadi padaku karena mungkin hal yang lebih buruk akan terjadi pada kita. Kamu sudah cukup tahu seperti apa sikapku. Jangankan mencintai dan mencoba membahagiakan orang lain, tugasku saja untuk membahagiakan orang tua dan keluargaku masih belum dapat aku laksanakan. Aku harap kamu mengerti.”.Kemudian dia berkata,” Ya aku ngerti ko. Tapi bolehkan aku mengungkapkan perasaanku sama kamu walaupun hanya lewat ucapan ?”. Akhirnya aku kabulkan permohonannya. Aku izinkan dia mencurahkan cinta, kasih dan sayangnya kepadaku hanya sebatas sebagai teman, begitu pun aku sebaliknya karena itulah yang diajarkan Tuhan dan orang tuaku kepadaku supaya aku menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan. Setelah lulus dari sekolah dasar aku kehilangan jejaknya.

Bersambung…